Purbaya Tolak Bayar Utang Whoosh. Direktur Eksekutif BUMN Care Erick Sitompul: Danantara Sebaiknya Yang Selesaikan.
( bumncare.com 15/10/2025 ). Proyek Kereta Cepat Indonesia Cina ( KCIC) – Jakarta Bandung yang di namai “Whoosh” saat ini mengalami permasalahan keuangan cukup pelik. Tahun kedua beroperasi, kereta cepat Whoosh belom mampu meraup pendapatan yang signifikan.
Penumpang yang memanfaatkan Whoosh setiap bulan belom mencapai target. Hal ini tentu memberatkan management KCIC dalam membiayai operasional dan membayar kewajiban utangnya yang mencapai 2 Trilyun se tahun.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menolak permintaan Management KCIC untuk membantu menanggulangi utang Whoosh. Purbaya menolak karena dividen seluruh BUMN itu sebesar 80 Trilyun, saat ini masuk ke Danantara,
Direktur Eksekutif BUMN Care Erick Sitompul, memaklumi penolakan Menkeu Purbaya atas pembayaran utang Whoosh yang jatuh tempo sebesar 4,1 Trilyun berasal dari APBN.
Karena memang sesuai Undang Undang yang baru, seluruh BUMN itu saat ini langsung dibawah kendali Danantara. Setoran dividen BUMN yang dulunya masuk ke APBN saat ini masuk ke rekening Danantara.
Walau Danantara memiliki rencana bisnis lain yang lebih strategis tentu persoalan Kereta Cepat ini menjadi tanggung jawab korporasi Danantara sebagai Holding Company seluruh BUMN , kata Erick
Lagi pula Whoosh ini kan proyek bisnis antara konsorsium China Railways dari Tiongkok dengan konsorsium BUMN ( KAI, Wika, Jasa Marga dan PTPN VIII ) yang bergabung dalam group bisnis PT. Pilar Energy BUMN Indonesia.
Permasalahan keuangan yang di hadapi duet konsorsium China – Indonesia di KCIC itu yang mestinya menyelesaikan permasalahan keuangannya tentu korporasi KCIC itu sendiri
Bila konsorsium PT. Pilar Energy tidak mampu bayar utangnya maka kurang tepat di suntik lagi oleh APBN namun tentu lebih layak dibantu oleh Danantara, kata Erick
Erick menyarankan agar persoalan utang kereta cepat itu agar di tangani lebih cepat lebih baik, agar tidak menjadi persoalan yang mengganggu banyak pekerjaan besar Danantara lainnya yang jauh lebih penting kedepan.
Danantara perlu pastikan proyek proyek strategis terutama pembangunan industri sektor hilir energy dapat berjalan lancar semua.
Pasti ada jalan keluar urusan utang itu. Konsorsium PT. Sinergy Energy BUMN di KCIC sebagai pemegang saham mayoritas dan pengendali agar lakukan restrukturisasi utangnya dengan mencari skema pembayaran yang lebih ringan dan Danantara pasti akan membantu memecahkan solusinya.
Danantara itu punya puluhan eksekutif profesional dan dibawah Rosan selaku CEO nya, yang kita tau sepak terjangnya selama puluhan tahun di beberapa group bisnis multinasional, tentu urusan utang Whoosh itu bukan urusan terlalu sulit bagi Rosan, kata Erick

Opsi lain yang kemungkinan cukup feasible adalah menjual sebagian saham PT. Sinergy Indonesia BUMN Indonesia di KCIC sebagai pemegang saham mayoritas kepada salah satu Bank Himbara besar seperti Bank Mandiri atau BRI yang dapat memanfaatkan Whoosh juga sebagai aksi korporasi bank nya dan dapat lebih meningkatan kinerja bank itu.
Sebaiknya memang utang Whoosh itu jangan lagi menjadi tanggungan APBN. Hal itu agar Menkeu fokus mengurus fiskal dan mempercepat langkah dan kebijakannya untuk mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi, kata Erick.
Sektor riil baru mulai bergerak kembali dengan support Purbaya menyiram likuiditas perbankan dengan penempatan 200 Trilyun di Bank Himbara. Pasar modal juga semakin bergairah.
Pengawasan sektor Perpajakan dan Bea Cukai semakin intens.
Tugas Purbaya menertibkan anggaran, menjalankan efisiensi anggaran, mengejar target pajak termasuk menekan defisit APBN tentu bukan pekerjaan ringan, tambah Erick.

