Harga minyak Dunia Meroket Tajam. Ketum APIB Erick Sitompul Sarankan Pemerintah Siapkan Contingency Plan dan Mitigasi Antisipasi Krisis Energi.
Kekhawatiran banyak pengamat energi Indonesia tentang potensi krisis BBM dalam negeri Indonesia, terkait meroketnya harga minyak dunia akibat eskalasi perang Iran vs Israel AS. Harga Crude Oil sempat mencapai 113 USD per barel. Berkaitan pula dengan kemampuan cadangan BBM dalam negeri Indonesia cuma 20 hari saja.
Ketum APIB, Aliansi Profesional Indonesia Bangkit, Erick Sitompul mengingatkan pemerintah dalam hal ini Menteri Energi dan Menteri Keuangan harus waspada dengan kenaikan tajam Crude Oil itu dan antisipasi stok BBM negara agar terus aman ke depan.
Ini bukan saja karena 20 – 25 persen impor minyak mentah Indonesia yang terganggu melewati selat Hormus. Namun melonjaknya harga minyak dunia yang tinggi itu berpotensi timbulnya krisis energi dalam negeri yang dapat menyebabkan terjadinya krisis keuangan negara.
Dalam keterangannya, menteri ESDM sangat yakin mampu amankan dan bahkan telah menyiapkan opsi pembelian dari negara lain seperti Malaysia hingga dari AS. Erick mengingatkan Menteri ESDM sebaiknya bisa pastikan tidak ada masalah terkait terganggunya import lewat selat Hormuz dan melonjaknya harga Crude oil dunia saat ini.
Pemerintah termasuk Pertamina harus betul betul serius mengantisipasi agar masalah impor minyak tidak mengganggu Supply Chain pada kebutuhan industri nasional dan sektor transportasi nasional.
Isue penting saat ini bukan hanya terkait tentang kesiapan pasokan dan memperbesar storage BBM. Namun bila perang terus berkepanjangan, harga Crude Oil dunia yang melonjak tajam itu dapat menggerus pengeluaran APBN negara kita karena hitungan subsidi BBM itu kan di harga 70 USD per barel. Minggu ini harga Crude Oil sempat menyentuh di 113 USD , kata Erick
Kemungkinan harga minyak dunia per barel dapat melewati 150 USD dan bleeding terhadap subsidi APBN bisa mencapai ratusan Trilyun, bila perang semakin eskalaif dan melewati sebulan perang tidak berhenti.
Kita masih ingat, prediksi yang salah semua orang tentang perang Rusia VS Ukraina dan sudah berlangsung 4 tahun lebih dan hingga kini belom berakhir. Perang di Eropa itu sempat menggerek tinggi harga minyak dan Gas, batubara dan juga harga CPO. Effectnya justru berpengaruh negatip terhadap harga energi dan pangan dalam negeri kita sendiri. Minyak goreng dalam negeri kita sendiri sempat langka. Padahal negara kita adalah salah satu produsen dan eksportir Batubara dan CPO terbesar dunia.
Erick sarankan Menteri ESDM dan Menkeu harus betul betul fokus siapkan Plan B dan C sebagai Contingency Plan untuk menghadapi keadaan bila terjadi krisis BBM ke depan yang mengarah menjadi krisis keuangan negara.
Pemerintah harus cepat membuka lapangan kerja secara luas terutama pada Sektor Agribisnis, Pangan, peternakan atau perikanan sebagai sektor yang sering menjadi penyelamat ekonomi negara kita.
Sektor ini dapat menjadi sektor pengendali para pekerja yang akan di lay out terutama bila terjadi lagi gelombang PHK berasal dari industri tekstil dan manufaktur milik swasta yang berpotensi berguguran terdampak harga energi yang tidak terkendali.
Pemerintah pusat serta pimpinan daerah harus cepat persiapkan mitigasi untuk antisipasi terutama bila meningkatnya angka pengangguran serta turun nya daya beli masyarakat. Perlu di siapkan proyek proyek pekerjaan padat karya secara luas agar krisis BBM tidak menjadi krisis sosial. Baru seminggu perang di teluk, dibeberapa daerah Indonesia sudah mengular antrian Pertalite, jadi Menteri ESDM mesti lebih antisipatif, kata Erick.
Tentang solusi perbesar cadangan minyak, Presiden Prabowo telah menugaskan Menteri ESDM membangun tambahan storage BBM dalam negeri. Namun itu bukan pekerjaan bisa selesai dalam 3 -6 bulan kedepan. Banyak hal yang harus disiapkan, butuh kesiapan lahan dan pelabuhan strategis dengan luas tanah yang matang. Kesiapan material, kontraktor yang handal dan yang paling penting kesiapan anggaran proyek perluasan storage juga.
Mestinya sejak 20 an tahun lalu juga pemerintah terutama Kementerian ESDM dan Pimpinan Pertamina sudah tau negara besar seperti AS itu cadangannya 3 bulan, Jepang cadangan nya 6-7 bulan bahkan Rusia itu cadangan nya untuk tahunan. Negara negara lain di Asia Tenggara rata rata diatas 50 hari.
Dengan kebutuhan BBM kita per hari nya sekitar 1 juta barel namun selama ini pemerintah tidak tergerak membangun storage yg besar. Ini masalah kurangnya political will pejabat pemerintah selama ini. Sangat tidak profesional dan terlalu lama memanjakan kepentingan mafia BBM dalam mempengaruhi transaksi bisnis BBM di negara ini, pungkas Erick.
Pengetatan pengeluaran pemerintah harus lebih kencang. Bukan cuma memangkas spending pemerintah yang tidak effektif. Karena defisit APBN pasti semakin jauh melebar di 2026 ini, kata Erick
Dalam situasi perang di middle east saat ini, memang Indonesia justru memiliki Windfall Profit atas melonjaknya beberapa harga dunia komoditas energi strategis lain seperti Timah, Nikel, Batubara dan CPO. Namun kita jangan terlalu senang dulu. Karena seluruh ekspor komoditi energi yang strategis ini gain nya masih dominan di kuasai perusahaan swasta nasional dan asing bukan oleh perusahaan negara.
Hanya komoditi Timah yang sudah dikelola secara penuh oleh perusahaan BUMN, Itupun masih banyak terjadi penyeludupan ekspor kata Erick.
Pada ekspor komoditi Nikel dan Batubara pajak ekspor untuk negara masih belom optimal. Pemerintah perlu evaluasi segera terutama peraturan pajak ekspor nikel, yang pabrik smelter hilir nya dominan dimiliki oleh investor Tiongkok.
Sangat banyak regulasi tentang pajak ekspor nikel di era pemerintahan Jokowi yang memanjakan investor asing dari Tiongkok itu, terutama adanya kebijakan bebas pajak ( tax holiday ). Pada industri Smelter nikel itu, Income pajak untuk negara masih minim. Hal Itu tidak menjadi Windfall Profit yang cukup berarti bagi negara, tegas Erick .
