Menteri Negara BUMN gabung 7 Perusahaan dalam sebuah Holding Company. BUMN Care-Erick Sitompul : Berat tingkatkan kinerjanya

Menteri Negara BUMN gabung 7 Perusahaan dalam sebuah Holding Company. BUMN Care-Erick Sitompul : Berat tingkatkan kinerjanya

Bumncare, Rabu (6 /10/2021) Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan bahwa pihaknya ingin membangkitkan sektor aviasi dan pariwisata Indonesia, karena itu, sejumlah perusahaan plat merah sektor penerbangan dan pariwisata akan digabungkan.


Bahkan, Erick Thohir telah menetapkan jajaran komisaris dan direksi holding beranggotakan tujuh perusahaan milik negara.
Ketujuh perusahaan BUMN itu adalah PT Angkasa Pura I (Persero), PT Hotel Indonesia Natour (Persero), PT Garuda Indonesia Tbk (Persero), PT sarinah (Persero) dan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero).

Dalam struktur tertinggi manajeman holding tersebut, Erick Thohir menunjuk Donny Oskaria sebagai Direktur Utama dan Triawan Munaf sebagai komisaris utama merangkap komisaris independent.


Plt Asisten Deputi Bidang Jasa Pariwisata dan Pendukung Kementerian BUMN, Endra Gunawan mengatakan, para direksi dan komisaris Aviasi Pariwisata Indonesia yang sudah ditetapkan itu diharap bisa memberikan milestone dalam proses pembentukan Holding BUMN Pariwisata dan Pendukung.

“Menteri BUMN sudah menetapkan jajaran direksi dan komisaris Aviasi Pariwisata Indonesia untuk membangkirkan kembali dan mengoptimalkan sektor aviasi dan pariwisata yang memiliki peran penting dalam perekonomian nasional,” jelasnya.

Diharapkan dengan terbentuknya holding itu, kata dia, BUMN ingin Aviasi Pariwisata Indonesia bisa memberikan manfaat bagi seluruh pelaku usaha di sektor pariwisata.Holding ini akan menjadi motor penggerak sektor pariwisata guna memberikan dampak positif bagi para pelaku usaha , ujarnya.

Menanggapi langkah kementerian BUMN untuk membentuk perusahaan induk ( holding company) sektor penerbangan , perhotelan dan parawisata termasuk mall modern Sarinah dalam satu holding , Direktur Eksekutif BUMN Care Erick Sitompul mengatakan kurang terlalu optimis atas terobosan Kementerian BUMN tersebut.

Langkah pembentukan Holding Company ini sebenarnya bukan barang baru di kalangan korporasi swasta besar nasional. Kalangan korporasi Swasta Nasional seperti Sinar Mas Group, Salim Group, Gudang Garam Group, RGM Group , Sampoerna Group, Djarum Group, Bakrie Group/ Bumi Resources Group, Medco Group dan lainnya sudah memulai pembentukan Holding Company ini di awal thn 2000 bahkan ada yang di akhir 1990 an. Menyusul kelompok Adaro, Saratoga Group, MNC Group , CT Group di era 2010 an.

Saat ini sudah terlihat kemajuan yang luar biasa dari perusahaan induk per sektor atau per Divisi kalangan group holding konglomerasi Swasta Nasional tersebut dalam hal perkembangan asset dan kinerja keuangan holding company mereka.

Pembentukan Holding Company di perusahaan perusahaan BUMN juga sudah berjalan walau masih jauh tertingal karena kesulitan persetujuan birokrasi parlemen.

Yg sdh berjalan baru di sektor perkebunan sawit, sektor semen atau industri besi – baja misalnya, juga kinerjanya tidak terlalu menonjol. Bahkan ada beberapa yang mengalami kerugian cukup besar karena hutang nya sangat besar puluhan bahkan ratusan Trilyun seperti holding perkebunan PTPN 3 dan industri besi baja Group PT. Krakatau Steel. Hanya beberapa yang kinerjanya cukup bagus seperti PT. Pertamina, PT. Telkom Indonesia Tbk , PT. Bank BRI Tbk dan PT PP Tbk.

Khusus langkah holdingisasi sektor Avia Pariwisata ini, pihak kementerian BUMN semestinya harus betul betul melakukan kajian bisnis plan nya secermat mungkin. Misalnya apakah layak menggabung perusahaan yang saat ini mengalami kerugian cukup besar seperti PT. Garuda Indonesia Tbk dalam holding yang di dalam nya terdapat bbrp perusahaan yang lumayan sehat walau tidak sebesar PT. Garuda seperti PT. Angkasa Pura dan PT. Sarinah Tbk.

Karena bila era pandemi covid masih terus berlangsung dan pertumbuhan ekonomi nasional masih merangkak terus bbrp tahun lagi, maka PT. Garuda Indonesia tetap akan terus mengalami kerugian besar ke depan.

Dalam hal ini PT. Garuda akan menjadi beban Financial yang cukup berat bagi perusahaan induk ( Holding Company ) tersebut, ujung ujung nya akan minta suntikan finansial dari Pemerintah dan lakukan PHK karyawan besar besar an juga.

Sehingga upaya membangkitkan kinerja holding Company tersebut sulit untuk tercapai. Saya tidak melihat ada perusahaan raksasa BUMN yang akan menjadi penggerak di Holding company ini selain PT. Garuda Indonesia.

Seandainya PT. Garuda kinerjanya kinclong dan pandemi segera berakhir, ini Holding akan berpotensi berhasil jadi lokomotif ekonomi sektor ini. Tapi dengan kondisi PT. Garuda saat ini yang merugi besar akibat pandemi covid berkepanjangan , sulit di harap kinerja holding ini akan bangkit dalam waktu cepat.

PT. Garuda itu perlu penanganan khusus dengan pola restrukturisasi finansial dan management secara keseluruhan, jangan di tambal sulam. Setelah dia sehat betul baru saat nya di gabung di perusahaan induk sebagai penggerak holding dan baru bisa jadi lokomotif ekonomi sektor ini, ungkap Erick Sitompul yang lebih 20 tahun berpengalaman sebagai eksekutif di 3 Holding Company yang mengelola ratusan anak perusahaan di Group konglomerasi swasta Nasional.

( Agus Irawan )

Leave a Reply

Your email address will not be published.